daniela_le174a

Daniela Lewkow Lewkow itibaren Pragpur, Punjab 144507, Hindistan itibaren Pragpur, Punjab 144507, Hindistan

Okuyucu Daniela Lewkow Lewkow itibaren Pragpur, Punjab 144507, Hindistan

Daniela Lewkow Lewkow itibaren Pragpur, Punjab 144507, Hindistan

daniela_le174a

Sedikit Berceloteh Aduuuh, telat banget aku baca buku keren ini. Buku yang mengisahkan perjuangan Meutya Hafid dan rekannya –Budiyanto, ketika disandera oleh mujahidin di Ramalah, Irak, Februari 2005 silam. Sejauh ini, di tahun 2009, untuk non fiksi, buku ini yang sangat mengesankan bagi aku. Posisinya hanya setingkat di bawah Harus Bisa! : Seni Memimpin a la SBY nya Dino Patti Djalal. Keren daaah! Tentang “168 Jam dalam Sandera” Jika aku langsung baca buku ini ketika dirilis 2007 lalu, tentu akan lebih dapet feelnya , tentu karena kejadiannya belum berlangsung lama. Tapi tunggu, nyatanya, ketika buku ini aku baca di tahun 2009, ketika kejadian penyanderaan itu telah berlangsung lebih dari 4 tahun aku masih bisa merasakan ketegangan, ketakutan, kegeraman, keharuan, dan betapa perjuangan mempertahankan hidup itu sungguh berat. Ternyata, Mbak Meutya dan Mas Budi (kameramen) telah menyelesaikan tugas peliputan pemilu di Irak, ketika Don Bosco –pimpinan redaksi Metro TV, menugaskan mereka kembali ke Irak untuk meliput peringatan Asyura. Mereka sendiri sudah berada di Amman, Yordania, pada saat itu. Mereka berdua sudah ragu untuk kembali, apalagi visa yang mereka miliki hanya untuk sekali masuk ke Irak. Dan, untuk mengurus Visa lagi bukan sebuah perkara mudah. Ini bukan untuk pelesiran, Bung! Visa sudah digenggam namun kekhawatiran lain masih ada. Terlebih ketika harus memilih apakah harus menggunakan jalur darat atau udara. Semua beresiko. Sangat beresiko. Jalur darat yang akhirnya mereka pilih, yang menurut hemat mereka (setidaknya) jauh lebih aman, malah membuat mereka mendekam di sebuah gua sempit selama 168 jam. Mereka ditawan bersama seorang guide bernama Ibrahim. Mereka bertiga dituduh oleh kaum Mujahidin sebagai mata-mata politik antek Amerika. Mereka ditahan ketika berada di Pom Bensin. Selama dua jam perjalanan mata mereka ditutup, tubuh mereka diikat lalu akhirnya ditempatkan di sebuah gua buatan sempit di gurun yang ada di daerah Ramalah. Ahmad dan Muhammad adalah muhajidin yang menyandera mereka. Siapa sangka, ketegangan antara Meutya, Budi, Ibrahim dan dua muhajidin itu pada awal perjumaan mereka belakangan berubah menjadi sebuah hubungan keterikatan yang erat. Todongan senjata pada awal pertemuan tidak lagi terlihat, malah mereka berlima senantiasa saling membantu, saling berbagi kehangatan api unggun kecil ditengah gurun yang ’beku’ karena tengah musim dingin. Budi bahkan sering membantu mencuci cangkir bekasi Chai (teh ala Irak). Untuk ukuran korban penyaderaan, perlakuan muhajidin terhadap Meutya, Budi dan Ibrahim sangat baik. Meutya bahkan diberi ruang privasi khusus. Keberadaannya sebagai wanita sangat dihargai dan dilindungi. Tapi sebaik apapun perlakuan yang mereka dapatkan, Meutya dan Budi tetaplah tawanan. Mereka sempat berada dalam kondisi tertekan, letih luar biasa dan menyedihkan. Bahkan Meutya tidak mandi dan BAB selama disandera. Gimana mau mandi, lah air seember harus mereka bagi berlima. Penuh lika-liku. Kelebihan lain buku ini, tidak hanya menceritakan keadaan dalam tawanan. Kisah kecil Meutya (SMP sudah hidup sendiri di Singapura euuy! Dapet beasiswa sekolah di sana), kehidupan Budi dan Ibrahim bersama keluarga, serta kehidupan muhajidin sempat dibahas dengan porsi yang pas. Juga ketegangan-ketegangan pihak lain yang ada di Indonesia. Ketegangan istana, departemen luar negerim serta kantor Metro TV. Aku selalu menaruh hormat tinggi sama siapapun yang berprofesi sebagai jurnalis (makanya aku sempat pingin berprofesi sebagai jurnalis, bahkan sampe sekarang :P hihi) betapa dibutuhkan sebuah integritas yang luar biasa untuk menjadi seperti Meutya dan Budi. Banyak hal yang aku dapatkan di buku ini. Gak asyik kalo aku ceritakan. Sangat aku rekomendasikan, deh! Pikiran negatifku akan kaum muhajidin sedikit banyak tersingkap. Betapa mereka, kaum muhajidin itu, sebetulnya dalam posisi tertekan dan tertindas juga. Makanya memilih jalan seperti itu. Siapa yang sangka, kaum muhajidin itu ternyata kaum intelek yang masih berusia sangat muda. Bahkan ada yang sembunyi-sembunyi menjadi muhajidin dari keluarga mereka. Di buku ini juga ada pengantar dari SBY, catatan Don Bosco dan tulisan Dr.R.M Marty dari departemen luar negeri. Catatan-catatan itu juga melengkapi buku ini, dari sudut pandang mereka masing-masing. Akhir kata... luar biasa! I Think Sebuah kisah yang memuat banyak nilai dan pelajaran hidup. (setidaknya bagiku ya...)